Makna Filosofis Tari Sada Sabay Komering: Simbol Kegembiraan dan Pengakuan Keluarga Besar

- Redaksi

Minggu, 1 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kanalsumsel.com/, Sumsel – Tari Sada Sabay merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Komering yang sarat dengan nilai filosofis dan makna sosial. Tari ini biasanya ditampilkan dalam rangkaian upacara pernikahan adat sebagai simbol kegembiraan dan bentuk pengakuan resmi antar dua keluarga besar.

Tari Sada Sabay bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi bagian penting dari prosesi adat yang menandai pengangkatan mempelai menjadi anggota keluarga besar, layaknya anak kandung sendiri.

Tari ini menggambarkan “pengabdian awal sang pengantin sebagai menantu yang telah di-angkon atau diangkat menjadi seperti anak kandung dalam keluarga.”

Tari ini ditarikan oleh kedua pasang orang tua mempelai dengan ekspresi sukacita, diiringi tabuhan kulintang yang menjadi penuntun ritme gerakan. Uniknya, gerakan tangan dilakukan secara berlawanan: orang tua mempelai laki-laki menggerakkan tangan ke kiri, sementara orang tua mempelai perempuan ke kanan.

Gerakan ini bukan tanpa makna. Gerakan tangan berlawanan menggambarkan simbol saling melengkapi antara dua keluarga: saling menutupi kekurangan dan mendukung kelebihan masing-masing.

Dalam pertunjukan ini, posisi tangan juga diatur secara adat. Bagi ayah mempelai, tangan bergerak tinggi ke atas hingga di atas bahu dengan ketiak terbuka. Sedangkan bagi ibu, gerakan tangan maksimal setinggi bahu, dengan ketiak yang harus tertutup, sesuai batasan aurat dalam budaya lokal.

Sementara itu, kedua pengantin berdiri di belakang mertua masing-masing sambil mengipas. Ini melambangkan awal pengabdian mereka kepada orang tua pasangan, sebagai bentuk penerimaan dan penyerahan bahwa mereka kini telah menjadi bagian dari keluarga inti yang setara dengan anak kandung.

Melalui Tari Sada Sabay, masyarakat Komering tidak hanya mengekspresikan sukacita dalam pernikahan, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang penerimaan, kesetaraan, dan harmoni dalam membangun relasi keluarga besar.*

Penulis:
(H. Leo Budi Rachmadi, SE bin H. Syahrin Nasir Adok/Gelaran Batin Temenggung, Ketua Umum Jaringan Masyarakat Adat Komering (JAMAK) Indonesia.)

Berita Terkait

Wali Kota Palembang Tegaskan Festival Perahu Bidar 2025 Harus Lebih Tertib dan Meriah
Seniman Pantomim Palembang Tampil di Festival HUMANOID 2025 Jakarta
PKK Palembang Dorong Produksi Wastra Khas Sebagai UMKM Berbasis Budaya

Berita Terkait

Rabu, 30 Juli 2025 - 18:19 WIB

Wali Kota Palembang Tegaskan Festival Perahu Bidar 2025 Harus Lebih Tertib dan Meriah

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:56 WIB

Seniman Pantomim Palembang Tampil di Festival HUMANOID 2025 Jakarta

Jumat, 27 Juni 2025 - 12:44 WIB

PKK Palembang Dorong Produksi Wastra Khas Sebagai UMKM Berbasis Budaya

Minggu, 1 Juni 2025 - 11:12 WIB

Makna Filosofis Tari Sada Sabay Komering: Simbol Kegembiraan dan Pengakuan Keluarga Besar

Berita Terbaru